Sego Berkat, yang Awalnya untuk Hajatan

Indonesia memang gudangnya kuliner enak, begitu banyak sajian kuliner enak yang bisa dinikmati. Kalau Anda sedang menikmati traveling di daerah Jawa Timur atau Jawa Tengah, mungkin Anda bisa mencoba sajian sego berkat yang awalnya untuk hajatan, namun sekarang mulai banyak yang menyediakan dan menjualnya sebagai sajian kuliner yang bisa dinikmati kapan saja. Bahkan di Jakarta sudah ada yang menyediakan sego berkat dengan bungkus daun jati.

Sego berkat atau sering disebut dengan nasi berkat memang sampai saat ini masih sering disajikan, apalagi dalam berbagai acara atau hajatan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa. Bahkan selain sego berkatnya, lauk pendampaing dan bahan yang digunakan untuk membungkus pun bisa menjadi bahan pembahasan yang menarik.

sego-berkat
Sego berkat 

Pasti Anda pernah melihat seseorang yang pulang dari sebuah acara atau hajatan dan membawa sebuah kantong plastik berisi nasi kotak, dan masyarakat menyebutnya “oleh berkatan” atau diartikan sebagai ‘dapat nasi berkat’. 

Dalam penyajiannya saat ini memang tidak melulu menggunakan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkusnya, namun saat ini mulai dikemas dengan menggunakan wadah kardus atau box, besek dan berbagai wadah lainnya yang lebih estetik.

Asal Usul Nasi Berkat

Berbicara tentang sego berkat yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan nasi berkat, maka nasi ini berasal dari Budaya Jawa, atau tepatnya dari daerah Pacitan atau Wonogiri. Pada awalnya sego berkat ini dibungkus denga daun jati dan bukan menggunakan tempat atau wadah dari kardus atau besek.

asal-usul-nasi-berkat
Sego berkat sederhana

Mengambil informasi dari solopos.com, tentang nasi berkat menurut Geri Priyatmoko yang merupakan dosen program Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma yang menyampikan bahwa sejarah nasi berkat sudah tertuang dalam Serat Centhini (sekitar 1814 sampai 1823 Masehi), hal ini menunjukkan bahwa kuliner sego berkat sudah ada sejak lama.

Baca juga: Lupis, Manis Legit Jajanan Khas Jawa.

Sege berkat ini memang sengaja diberikan kepada para tamu setelah datang ke acara hajatan untuk dibawa pulang  yang menjadi tradisi masyarakat Jawa. Setiap orang akan menerima satu bungku sego berkat yg dibungkus daun jati. Meskipun bentuk dan tampilannya sederhana, namun sego berkat ini memiliki makna sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran para tamu.

Sego berkat dalam kotak komplit

Meskipun bentuknya sederhana, lauknya sangat enak, biasanya berupa mie atau bihun, oseng sambal goreng kentang, dan semur daging. Untuk lauk ada pula yang menggantinya dengan ayam bakar atau ayam bumbu rujak.

Filosofi Sego Berkat

Berbicara tentang asal usul termasuk filosofi suatu kuliner memang menarik, begiu pula dengan sego berkat. Nama “berkat” sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu “bakatun” yang merupakan bentuk jamak dai kata ‘barakat’ yang berarti kebaikan yang bertambah terus. Dengan pemberian nasi ini maka yang memiliki hajat berharap agar segala hajat dan urusannya bisa terkabul.

filosofi-sego-berkat
Sego berkat dengan nasi kuning

Selain itu, sego berkat memiliki filosofi sebagai “bersedekah” kepada sesama, dan juga tetangga. Dengan pemberian sego berkat ini diharapkan agar nasi berkat yang dimakan akan memberikan keberkahan, baik kepada si pengirim atau pun pada si penerima.

Itu dia, sedikit informasi tentang “sego berkat yang awalnya untuk hajatan”. Semoga bermanfaat dan menambah informasi tentang kekayaan kuliner Indonesia.

Belum ada Komentar untuk "Sego Berkat, yang Awalnya untuk Hajatan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel